Monday, 12 April 2010

TUNJUKKANLAH AKU DIMANA PASAR

Kisah Abdurrahman bin Auf. Dia pindah dari tanah airnya-Makkah ke Madinah, tanpa bekal apa pun, tangan kosong. Hanya satu tekad dalam hatinya, menemukan tempat terbaik. Istilahnya modal dengkul. Setiba di Madinah dia ditawarkan kekayaan yang berlimpah. Namun apa yang dia katakan dari lubuk hatinya yang paling dalam, dengan sikap optimis dan tidak takut gagal dia berkata :

"Tunjukkanlah aku dimana pasar kota Madinah"

Berani gagal, berani pergi ke pasar. Hanya itu yang ada di dalam hatinya, tekad telah bulat meski hanya bermodal baju yang dikenakan, serta debu yang menempel di tubuh setelah melakukan perjalanan Hijrah selama tiga hari.

Abdurrahman bin Auf, lebih memilih barang yang bersifat produktif dari pasar Madinah daripada hanya menjadi konsumen kekayaan orang lain, kekayaaan saudara Sa'ad bin Rabi'.

Sahabat Nabi ini dapat memilah tujuan produktif dan konsumtif.

Nah, selepas beberapa minggu, Abdurrahman kembali ke hadapan Rasulullah saw dengan senyum mengembang dari bibirnya. Pakaian baru dan semerbak harum minyak wangi dari dirinya, sambil berkata : "Wahai Rasulullah, aku telah menikah!" Seorang wanita Anshar kini sedang mendampinginya. Maharnya emas seberat biji kurma, kurang lebih senilai Rp. 300 ribu.

Satu hari, dia dapat bersedekah sebanyak 40.000 Dinar emas. Setara dengan Rp 4,8 M, angka yang fantastik, dua kali omzet kekayaan Aa Gym selama dua bulan.

*******

Sebuah kisah yang menginspirasikan anda bahwa spiritual itu tidak bertentangan dengan pencapaian finansial. Setelah melakukan perjalanan panjang Hijrah (spiritual) Abdurrahman bin Auf pun tetap mencari kepuasan finansial dengan pergi ke pasar Madinah. Karena memang Islam adalah spiritual dan finansial, kedua-duanya tidak dapat dipisahkan. Seperti tangan kanan dan kiri, keduanya saling terkait satu sama lain.

Dalam kisah ini pun, memberi hikmah agar melatih kecerdasan finansial setiap masing-masing individu. Terutama dalam hal memilah dan memilih barang yang bersifat produktif dan barang yang malah bersifat konsumtif. Barang produktif adalah sesuatu yang dapat memberi manfaat bukan membebani. Karena barang produktif akan terus berkembang, terus melahirkan sesuatu yang baru.

Tak dapat dipungkiri, bahwa kecerdasan finansial menjadikan pribadi-pribadi yang mandiri, tak ingin menjadi benalu, merdeka dalam setiap langkah menentukan pikiran dan jiwa tanpa takut intimidasi dari pihak lain. Dan juga dapat memberi dan terus memberi.

No comments:

Post a Comment