Sunday, 25 July 2010

Memanfaatkan Setiap Detik

Seorang kakek tua berjalan masuk ke Masjid. Langkahnya lambat namun pasti. Kerut-kerut menghiasi wajahnya. Rambut putih menjadi cirinya. Disekitarnya para pemuda yang taat beribadah kepada ALLAH. Mereka jauh lebih muda puluhan tahun dari usia kakek. Kakek memandangi para pemuda soleh yang begitu antusias beribadah, solat, dan membaca al-Quran.

Dia menangis tersedu-sedu. Air kesedihan mengalir dari kedua mata yang telah sayu.

"Kenapa engkau menangis, kek?" Tanya seseorang keheranan melihat kakek yang bersedih.

"Aku tidak memanfaatkan waktu" Si kakek menjawab dengan sesegukkan disertai suara pedih "untuk memakmurkan Masjid dan solat berjama'ah di dalamnya kecuali saat usiaku telah tua."

Kakek mengenang masa mudanya yang diisi dengan kesia-siaan tanpa arti dan makna.

"Aku memandangi para pemuda soleh di Masjid ini. Lalu aku menangis. Sebelum ini, aku telah melalaikan waktu serta tidak mengerjakan solat."

Sebelum datang suatu hari mulut terkunci. Sebelum datang suatu masa tak ada lagi suara terdengar. Masjid ini menjadi saksi bisu ucapan penyesalan kakek itu.

#######

Waktu yang berlalu tak akan kembali lagi tak akan terulang. Waktu yang telah lewat tinggal kenangan penyesalan di Hari Akhir jika tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Gunakanlah waktu itu untuk hal-hal positif. Manfaatkan waktu untuk taat kepada ALLAH swt, untuk membaca al-Quran, membantu orang tua, atau meringankan beban orang lain.

Betapa penting waktu itu bagi kehidupan Anda hingga ALLAH swt bersumpah atas nama waktu. "Demi waktu, demi malam hari, demi siang hari, demi waktu dhuha, demi waktu fajar, demi matahari, serta demi bulan." Kesan dari sumpah-NYA menggunakan waktu tadi bahwa seakan DIA berkata inilah modal hidup Anda. Pergunakanlah dengan baik modal Anda.

Memanfaatkan waktu dengan hal-hal bermanfaat, efektif, dan efisien maka seakan sedang menghirup semerbak aroma harum 'bunga-bunga' waktu.

Perhatikan contoh ini!

Ibnu Aqil berusia 80 tahun telah menghasilkan produk-produk positif. Ia telah menulis sebanyak 800 jilid buku. Dengan kata lain ia menulis dalam satu tahun sebanyak sepuluh jilid buku.

Di luar akal sehat. Bisa, jika sungguh-sungguh mengatur waktu dan mengejarkan hal-hal bermanfaat.

Imam Nawawi, penulis kitab Arba'in an-Nawawiyah dan Riyadh ash-Sholihin meninggal pada usia muda, 40 tahun. Selama beliau hidup telah melahirkan karya tulis sebanyak 500 buku.

Apa rahasia ini semua?

Mereka adalah pribadi yang memakai waktu untuk hal-hal positif dan manfaat. Menggunakan umur untuk berkarya. Mereka menjauhi gosip, anti ngobrol sana-sini, benci bersantai-santai dan berleha-leha, serta menjauhi menyia-nyiakan waktu. Satu apa yang ada di benak mereka; hidup sekali harus bermanfaat bagi orang lain dengan melahirkan karya-karya positif dan memanfaatkan waktu dengan ibadah, membaca, dan memperbaiki diri.

Bukti lain, waktu itu berharga yang tak terulang kembali diamini oleh Ibnu Rajab al-Hambali. Ia menulis karya tulis sebanyak dua ribu jilid buku. Jika dikalkulasikan dengan jatah umurnya maka setara dengan ia menulis sembilan buku setiap hari.

Imam Syafi'i mengkhatamkan al-Quran dua kali selama bulan Romadhon. Karena beliau mengetahui makna waktu. Tidak boleh ada waktu yang tersiakan. Meski sedetik pun.

Anda adalah pribadi-pribadi sukses yang berpotensi menghasilkan karya positif dan manfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baik pribadi adalah pribadi yang perbuatannya bermanfaat bagi orang lain.

Ingatlah! Semua diberi waktu yang sama yaitu dua puluh empat jam sehari. Namun buah yang dihasilkan berlainan. Dengan dua puluh empat jam ada yang sukses atau gagal. Dengan dua puluh empat jam ada yang menjadi ahli surga atau ahli neraka. Maka Anda yang sukses dan penghuni ahli surga adalah Anda yang berani mengisi waktu dengan hal-hal positif dan bermanfaat.

ALLAH swt berfirman: "Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan." (Al-Mukminun : 61)

Thursday, 22 July 2010

Teguh Pada Kebenaran

Said bin Jabir seorang tabi'in (seseorang yang bertemu dengan sahabat namun tak berjumpa Nabi saw). Ia giat berdakwah menyampaikan kebenaran. Puncaknya pada zaman al-Hajjaj bin Uusuf ats-Tsaqofiy seorang raja zalim memenjarakannya.

"Siapa namamu?" Tanya al-Hajjaj dengan nada suara angkuh.
"Said bin Jabir." Jawab Said merendahkan hati.

"Bahkan namamu adalah Saqiy bin Kasir (orang celaka bin perusak)." Berkata al-Hajjaj disertai intonasi hinaan.
"Ibuku lebih mengetahui tentang namaku." Said berucap dengan tenang.

"Celakalah, celakalah ibumu." al-Hajjaj marah.
"Apakah kamu tahu hal-hal ghoib. Sungguh yang celaka adalah siapa yang menjadi penghuni neraka."

"Aku akan membuatmu merasakan api neraka dunia yang berkobar-kobar." Geram berbalut wajah memerah.
"Demi ALLAH, Kalaulah kutahu hal ini berasal dari kekuasaanmu. Aku akan menjadikanmu Tuhan yang disembah." Ujar Said meyakinkan.

"Kenapa kamu lari dariku?"
"Aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu." (asy -Syu'ara : 21) Said mengutip dialog antara Musa dengan Firaun.

"Hai Said, pilihlah cara menuju kematianmu."
"Bahkan pilihlah untuk dirimu sendiri. Tidaklah engkau membunuhku kecuali ALLAH swt akan membunuhmu dengan cara yang sama."

"Aku akan membunuhmu dengan cara yang tidak pernah ada sebelum dan setelahmu."
"Jika begitu, rusaklah seluruh duniaku tapi rusaklah akhiratmu."

Al-Hajjaj marah. Memanggil algojo.
"Lempar dan bunuh dia."

Said malah tertawa. Al-Hajjah bertambah geram.

"Kenapa kamu tertawa?"
"Aku tertawa karena engkau berani melawan ALLAH swt. Semoga DIA menyadarkanmu."

"Sembelih dia!"
"Hadapkanlah wajahku ke arah Kiblat."

Sang algojo meletakkan pedang tepat dilehernya.

"Aku menghadapkan wajahku kepada Yang Maha Pengatur langit dan bumi, sebagai Muslim bukan termasuk dari orang musyrik."

"Palingkan wajahnya dari arah Kiblat."
"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu." (Thoha : 55) Mengutip sebuah ayat dalam al-Quran.

"Hai Said, tidaklah lisanmu itu lebih cepat dari al-Quran." Ucap al-Hajjaj angkuh. Segera dia memerintahkan ke algojo.
"Sembelih."

"Aku bersaksi tiada tuhan kecuali ALLAH. Dan sungguh Muhammad adalah utusan ALLAH." Said bersyahadat dan melanjutkan:
"Hai al-Hajjaj ambillah lisanku! hingga nanti kita akan bertemu di Hari Kiamat."

Said berdoa.
"Ya ALLAh, ya tuhan kami. Janganlah ada raja yang memerintah setelah kematianku."

Said terbunuh.

Sepanjang malam setelah kematiannya, al-Hajjaj terus berteriak-teriak memukau telinga rakyat.

Lima belas hari kemudian al-Hajjaj meninggal. Setelahnya tidak ada raja yang memerintah.

#######

Teguh pendirian pada kebenaran bagai menyetir mobil mengikuti rambu-rambu lalu lintas. berjalan akan tenang, aman, dan sampai tujuan dengan selamat.

Teguh pendirian pun bagai pohon kelapa. Angin menghempas, pohon kelapa menjulang ke atas.
Jika di sekeliling Anda banyak yang tidak mengenakan jilbab. Anda tetap berjilbab.
Jika di sekeliling Anda banyak yang tidak Solat. Anda menjaga Solat.
Jika di sekeliling Anda banyak yang meninggalkan shoum. Anda bertahan melaksanakan shoum.
Jika di sekeliling Anda tak bersemangat. Anda bersemangat dan 'menularkan' semangat itu.

Hati dan jiwa yang suci tidak akan terpengaruh oleh kotoran disekitarnya. Ia tetap istiqomah menjalankan kebenaran. Bagaikan ikan laut, dagingnya tidak menjadi asin meski selalu dikelilingi oleh air asin.

Ingat kisah Ahmad bin Hambal. Keteguhan hati dalam mempertahankan satu kata. Ya, satu kata kebenaran. Satu kata itu membuat ia dipenjara dan disiksa. Tak gentar walau terpenjara dan tersiksa demi kebenaran.

Kisah Umar Mukhtar, penjajah Italia meminta agar mencabut kembali kata "membela diri." Karena kata itu bentuk serangan ke tentara Italia. Tidak, ia tidak mencabut kata itu meski tiang gantungan sebagai jalan hidup terakhir.

Masyitah, berteguh pendirian bahwa Tuhan dia dan Tuhan Firaun adalah ALLAH swt. Karena berpegang teguh menegakkan kalimat ALLAH swt, ia dibakar hidup-hidup bersama keempat anaknya.

Janganlah menjadi pribadi yang mudah menyerah. Namun jadilah pribadi yang teguh pendirian. Teruslah menjaga yang wajib dan menambah amalan sunnah. Janganlah menjadi seseorang yang rajin beribadah. Tapi sedikit demi sedikit meninggalkannya. Kerjakanlah sesuatu itu secara konsisten, meski hanya sedikit. Karena hal itu dapat melatih keteguhan jiwa dan ruh.

Teguh pendirian dalam berdakwah bukan menggunakan kata-kata kasar. Tapi gunakanlah kata-kata lembut nan bijak.

Bagaimana cara agar teguh pendirian?
Pertama; doa. Kedua; bergaul dengan orang soleh. Ketiga; amalkan ajaran Islam. Keempat; mempelajari al-Quran.

ALLAH swt berfirman: "Berteguh hatilah kamu dan ingatlah ALLAH sebanyak-banyaknya." (al-Anfal : 45)